33. Lily Wahid: Mbah Hasyim dan Pak Wahid Lebih Layak Disebut Wali

Banyak orang memberi predikat Gus Dur sebagai wali ke-10, melengkapi Walisongo yang telah menyebarkan Islam di nusantara. Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim malah jarang disebut sebagai wali.

Bagi Lily Wahid, adik Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur dan KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) lebih layak menyandang sebutan sebagai wali karena amal ibadahnya.

“Dalam unsur kewalian, dia mengikuti kehidupan Rasuluullah, terutama ubudiyah (peribadatan),” katanya disela-sela acara Seabad KH Wahid Hasyim, Sabtu (30/4) lalu di Jakarta.

Ia menggambarkan bagaimana tekunnya ibadah kakek dan ayahnya itu.  KH Hasyim Asy’ari ketika dihadapkan pada sebuah persoalan pelik, mampu menjalankan sholat hajat selama 5-6 jam, sementara KH Wahid Hasyim, rutin menjalankan puasa selama 7 tahun berturut-turut sebelum meninggal, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa.

Ia merasa tidak tepat jika perjuangan dan ijtihad Gus Dur dalam bidang sosial politik membuat dia menjadi wali. Baginya, wali selalu terkait dengan amalan ubudiyah dan ilahiyyah.

“Saya sangat tidak sependapat dengan itu (Gus Dur wali.red), terus terang saja,” katanya.

Mengenai adanya testimoni dari orang-orang yang mengaku pernah menyaksikan karomah Gus Dur, ia meminta agar hal ini disikapi dengan hati-hati karena tidak semua berasal dari malaikat.

Sumber : NU Online

32. Gus Dur Pun Pernah Kena Santet

Ketika Gus Dur terkena stroke tahun 1998 lalu, banyak orang mencoba membantu dengan berbagai cara, termasuk dengan pengobatan alternatif. Salah satu pengobatan alternatif yang dicoba oleh Gus Dur adalah dengan pemijatan.

Adalah Dr Bina Suhendra, salah seorang Tionghoa pengagum Gus Dur memperkenalkan seorang tukang pijit asal Bali, yang terkenal bisa menyembuhkan penyakit stroke dengan memijit.

Akhirnya, ahli pijat ini didatangkan dari Bali, seorang ibu-ibu yang sudah cukup berusia. Ia memijat Gus Dur pada bagian-bagian yang memerlukan penanganan karena kondisi syaraf yang lemah.

Ditengah-tengah memijit kaki Gus Dur, tiba-tiba ibu tadi terlempar jatuh dan tangannya merah membara seperti habis terkena setlika. “Ia menjerit-jerit kesakitan, minta dicarikan bawang merah dan digosok-gosokkan ke tangannya untuk mengurangi panasnya,” kata Doktor kimia lulusan Jerman ini.

Sang ibu tadi bilang, ada makhluk lain dalam tubuh Gus Dur yang menganggu, dan ia tidak bisa mengalahkannya sendirian. Karena itu, ia berencana meminta bantuan anaknya yang tinggal di Lombok, yang juga memiliki kemampuan spiritual.

Beberapa waktu kemudian, pasangan ibu dan anak tersebut datang kembali. Gus Dur diobati dan dimandiin secara spiritual. Lalu kedua orang tersebut bertarung dengan makhluk halus yang mengganggu Gus Dur. Akhirnya, seekor srigala, yang sudah tertatih-tatih dengan tubuh penuh luka keluar.

Lalu orang tersebut bertanya kepada Gus Dur. “Ini dibunuh atau dikembalikan kepada orang yang mengirim santet”

“Bagi saya yang paling penting adalah jawaban Gus Dur. Beliau bilang, jangan dibunuh, biarin saja, yang penting sudah keluar. Ini yang membuat saya terkesan dengan beliau sebagai orang besar,” kata Bina Suhendra yang sekarang menjadi bendahara umum PBNU ini.

Pada hari kedua dalam proses pengobatan, satu makhluk halus keluar lagi dan Gus Dur kembali berpesan agar tidak dibunuh.

Rupanya, srigala yang dikalahkan pada hari sebelumnya dibunuh karena bandel dan Gus Dur ternyata juga tahu kejadian tersebut.  (mkf)

Sumber : NU Online

31. Gus Dur Mengangkat Ekonomi Warga NU


Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat berjasa mengangkat ekonomi warga NU dengan gagasan-gagasan yang dirintisnya. Namun tidak banyak pihak yang mengkaji peran pemberdayaan ekonomi yang dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama menjabat tiga periode ketua umum PBNU. Padahal,

Demikian diungkapkan Peneliti The Wahid Institue Nurun Nisa dalam diskusi kelompok kajian “Epistemologi Gus Dur”, Senin (25/04), di Kantor The Wahid Institute. Menurut Nisa, Gus Dur selalu berupaya mengerem laju konglomerasi dan kebijakan ekonomi Orde Baru yang sangat berorientasi pada kepentingan kelas pemodal.

“Selama menakhodai NU, Gus Dur telah melakukan langkah-langkah gebrakan dalam bidang ekonomi dengan mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Nusumma, bekerja sama dengan Bank Summa milik pengusaha Edward Soeryadjaya,” tutur Nisa yang menjadi pemateri dalam diskusi bertema “Gus Dur dan Perannya dalam Pemberdayaan Ekonomi Ke-NU-an” ini.

Visi di balik pemikiran Gus Dur, menurut Nisa’, adalah ekonomi kerakyatan, yaitu orientasi ekonomi yang memihak pengusaha gurem dan rakyat lemah. Namun cita-cita Gus Dur memang tidak seratus persen berhasil. Dari 2000 BPR yang direncanakan, baru terealisir belasan saja.

“Jasa Gus Dur yang lain adalah membentuk Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Lembaga ini dirancang untuk merintis berbagai percontohan pengembangan ekonomi dan merangsang iklim kewirausahaan di kalangan warga NU,” tandasnya.

Sementara itu, Saiful Arif, peneliti dari Pesantren Ciganjur menyatakan, di bawah tekanan hegemonik Orde Baru, kerja-kerja pemberdayaan Gus Dur di NU memang menemui kesulitan berarti.

“Pemikiran ekonomi Gus Dur tergolong visioner pada masanya. Pemikiran ekonomi Gus Dur merupakan kritik terhadap ekonomi pembangunan yang terlalu berkiblat pada pertumbuhan, dan bukan keadilan dan pemerataan,” tutur Arif. (min)

Sumber :  NU Online

30. Ramalan-Ramalan Gus Dur Jadi Presiden

Jatuhnya rezim Orde Baru memberi kesempatan terjadinya perubahan kekuasaan. Pada pemilu 1999, terdapat tiga orang calon presiden, yaitu Megawati, Habibie dan Gus Dur, yang waktu itu paling tidak diunggulkan, tetapi secara mengejutkan menjadi presiden Indonesia yang ke-4.

Bagi orang-orang tertentu, bahkan mungkin bagi Gus Dur sendiri, menjadi presiden hanya soal waktu saja. Ia sudah tahu bahwa ia harus menjalankan amanah memimpin Indonesia melewati masa-masa krisis yang menentukan nasib bangsa ke depan.

Ramalan pertama tentang kepresidenan Gus Dur yang terlacak berasal dari seorang pendeta sakti Hindu dari Banyuwangi. Sedemikian saktinya, saat terjadi hujan, padepokan pendeta yang ada diatas gunung tersebut tak kehujanan sementara diluar kompleksnya basah kuyub.

Tahun 1997, dua tahun sebelum jadi presiden, Gus Dur yang memang sangat suka bersilaturrahmi kepada siapa saja, berkunjung ke pendeta sakti tersebut. Mantan ketua PBNU H Mustofa Zuhad Mughni diceritai oleh Gus Dur bahwa dalam kunjungan tersebut, ia sudah diramalkan akan menjadi presiden.

Mustofa Zuhad juga menuturkan, sekitar enam bulan sebelum menjadi presiden, Gus Dur juga sudah mulai menjaga dirinya. Ia menghindari diajak makan lesehan di dekat masjid Istiqlal yang sebelumnya menjadi langganannya.

Testimoni lain datang dari KH Abas Muin, teman akrab Gus Dur yang saat ini masih menjadi salah satu ketua PBNU. Dalam sebuah pertemuan dengan tokoh LSM, Gus Dur menyampaikan dirinya akan jadi presiden berikutnya.

“Teman-teman mengamini saja, untuk menjaga perasaan Gus Dur, meskipun saat itu juga kurang percaya,’ katanya.

Kiai Said Aqil juga menyampaikan, saat Gus Dur ditengah-tengah upaya penyembuhan terhadap stoke, ia sedang tertidur diatas kursinya, begitu bangun ia langsung berujar “Aku presiden,”.

Menurut Kiai Said saat penyembuhan stroke ini, indra keenam Gus Dur dalam proses paling tajam. “Ia bisa menebak skor pertandingan bola dengan tepat,” katanya, padahal waktu itu Gus Dur penglihatannya sudah sangat tidak memungkinkan untuk melihat pertandingan sepak bola. (mkf)

Sumber, NU Online

29. Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah


Jazirah Arab merupakan daerah yang tandus dan panas sehingga melakukan perjalanan yang melewati padang pasir merupakan sesuatu yang menyiksa yang menjadi perjuangan berat dan butuh persiapan fisik dan mental yang prima.

Salah satu tanda kenabian Muhammad adalah ketika ia mengikuti misi dagang dari Makkah ke Syam, sekarang daerah Damaskus, bersama pamannya Abu Thalib. Sepanjang perjalanan tersebut Muhammad selalu dinaungi oleh awan sehingga tidak kepanasan.

Gus Dur, tentu saja jangan dibandingkan dengan Nabi Muhammad, pernah mengalami fenomena keajaiban alam yang juga luar biasa ketika ia berada di Makkah untuk menjalankan ibadah haji tahun 1994 lalu.

Kiai Said Aqil Siroj yang mendampingi Gus Dur mengisahkan, waktu itu rombongan haji sudah ada di Arafah. Kemudian Gus Dur bertiga, dengan Kang Said dan Sulaiman, asisten pribadi Gus Dur, memisahkan diri menjauhi perkemahan untuk berdoa di suatu tempat.

Mereka bertiga berdzikir panjang ditengah udara gurun pasir yang panas sehingga keluar keringat yang banyak. Untungnya ada awan yang berada diatas mereka yang melindungi pancaran sinar matahari langsung.

Ditengah-tengah dzikir tersebut, tiba-tiba awan tersebut menyibak dan satu cahaya kecil menerobos langsung mengenai tubuh Gus Dur sementara dua orang yang mengiringinya tidak terkena sinar tersebut. Gus Dur yang memimpin dzikir meneruskan dzikirnya sementara mereka berdua hanya bisa saling berpandang mata sambil terdiam dan ternganga.

“Kelihatan sekali ada mego (awan) membuka, ada cahaya yang ke Gus Dur, ini saya tahu sendiri. Kalau diceritakan sulit, karena orang pasti tidak percaya,” kata Kang Said.

Tapi setelah kejadian tersebut, Kang Said tidak menanyakan masalah itu. Menurutnya, jika pun ditanya, Gus Dur pasti jawabnya ringan-ringan saja. (mkf)

Sumber : NU Online

28. Idola Gus Dur adalah Para Sufi

Siapakah orang yang diidolakan oleh Gus Dur? para artis, pemain sepak bola, politisi, hartawan atau ilmuwan sebagaimana kebanyakan orang? Bukan itu semuanya. Menurut Kiai Said Aqil, Gus Dur sangat mengidolakan para sufi.

“Pokoknya idolanya para sufi yang filosof. Beliau senang sekali dengan judul disertasi saya, Hubungan Allah dengan Alam,” katanya.

Beberapa sufi yang buku dan kisah hidupnya banyak dipelajari oleh Gus Dur adalah Junaidi al Bagdadi, Ibnu Sina, Al Ghozali.

Ketika intelektualitasnya sudah sangat matang, Gus Dur menjadi bosan dengan pendekatan logis. Setiap orang yang kenal dengan Gus Dur akan kagum dengan instuisinya.

Dijelaskannya, orang kalau memberikan masukan ke Gus Dur dengan analisis, Gus Dur ngak ngreken (memperhatikan), tapi kalau ngaku dapat isyarah, ia akan memperhatikan karena hal ini tidak ada batasnya sementara rasionalitas ada batasnya.

“Ilham, ilmu ladunni, kasyaf, itu ngak ada batasnya, asal jangan ngaku mendapat wahyu atau mengaku nabi,” tuturnya.

Ia mencontohkan Ibnu Arabi mengaku mendapat ilham, tetapi mengatakan lastu nabiyyah warasullah, saya bukan nabi, padahal isinya luar biasa, sementara itu pendiri Ahmadiyah mengaku dapat wahyu.

“Ini salahnya mengaku mendapat wahyu, bukan menjadi wali, padahal isi bukunya bagus,” terangnya. (mkf)

Sumber : NU Online

27. Gus Dur Mengangkat Ekonomi Warga NU

Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat berjasa mengangkat ekonomi warga NU dengan gagasan-gagasan yang dirintisnya. Namun tidak banyak pihak yang mengkaji peran pemberdayaan ekonomi yang dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama menjabat tiga periode ketua umum PBNU. Padahal,

Demikian diungkapkan Peneliti The Wahid Institue Nurun Nisa dalam diskusi kelompok kajian “Epistemologi Gus Dur”, Senin (25/04), di Kantor The Wahid Institute. Menurut Nisa, Gus Dur selalu berupaya mengerem laju konglomerasi dan kebijakan ekonomi Orde Baru yang sangat berorientasi pada kepentingan kelas pemodal.

“Selama menakhodai NU, Gus Dur telah melakukan langkah-langkah gebrakan dalam bidang ekonomi dengan mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Nusumma, bekerja sama dengan Bank Summa milik pengusaha Edward Soeryadjaya,” tutur Nisa yang menjadi pemateri dalam diskusi bertema “Gus Dur dan Perannya dalam Pemberdayaan Ekonomi Ke-NU-an” ini.

Visi di balik pemikiran Gus Dur, menurut Nisa’, adalah ekonomi kerakyatan, yaitu orientasi ekonomi yang memihak pengusaha gurem dan rakyat lemah. Namun cita-cita Gus Dur memang tidak seratus persen berhasil. Dari 2000 BPR yang direncanakan, baru terealisir belasan saja.

“Jasa Gus Dur yang lain adalah membentuk Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Lembaga ini dirancang untuk merintis berbagai percontohan pengembangan ekonomi dan merangsang iklim kewirausahaan di kalangan warga NU,” tandasnya.

Sementara itu, Saiful Arif, peneliti dari Pesantren Ciganjur menyatakan, di bawah tekanan hegemonik Orde Baru, kerja-kerja pemberdayaan Gus Dur di NU memang menemui kesulitan berarti.

“Pemikiran ekonomi Gus Dur tergolong visioner pada masanya. Pemikiran ekonomi Gus Dur merupakan kritik terhadap ekonomi pembangunan yang terlalu berkiblat pada pertumbuhan, dan bukan keadilan dan pemerataan,” tutur Arif. (min)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.