33. Lily Wahid: Mbah Hasyim dan Pak Wahid Lebih Layak Disebut Wali

Banyak orang memberi predikat Gus Dur sebagai wali ke-10, melengkapi Walisongo yang telah menyebarkan Islam di nusantara. Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim malah jarang disebut sebagai wali.

Bagi Lily Wahid, adik Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur dan KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) lebih layak menyandang sebutan sebagai wali karena amal ibadahnya.

“Dalam unsur kewalian, dia mengikuti kehidupan Rasuluullah, terutama ubudiyah (peribadatan),” katanya disela-sela acara Seabad KH Wahid Hasyim, Sabtu (30/4) lalu di Jakarta.

Ia menggambarkan bagaimana tekunnya ibadah kakek dan ayahnya itu.  KH Hasyim Asy’ari ketika dihadapkan pada sebuah persoalan pelik, mampu menjalankan sholat hajat selama 5-6 jam, sementara KH Wahid Hasyim, rutin menjalankan puasa selama 7 tahun berturut-turut sebelum meninggal, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa.

Ia merasa tidak tepat jika perjuangan dan ijtihad Gus Dur dalam bidang sosial politik membuat dia menjadi wali. Baginya, wali selalu terkait dengan amalan ubudiyah dan ilahiyyah.

“Saya sangat tidak sependapat dengan itu (Gus Dur wali.red), terus terang saja,” katanya.

Mengenai adanya testimoni dari orang-orang yang mengaku pernah menyaksikan karomah Gus Dur, ia meminta agar hal ini disikapi dengan hati-hati karena tidak semua berasal dari malaikat.

Sumber : NU Online

32. Gus Dur Pun Pernah Kena Santet

Ketika Gus Dur terkena stroke tahun 1998 lalu, banyak orang mencoba membantu dengan berbagai cara, termasuk dengan pengobatan alternatif. Salah satu pengobatan alternatif yang dicoba oleh Gus Dur adalah dengan pemijatan.

Adalah Dr Bina Suhendra, salah seorang Tionghoa pengagum Gus Dur memperkenalkan seorang tukang pijit asal Bali, yang terkenal bisa menyembuhkan penyakit stroke dengan memijit.

Akhirnya, ahli pijat ini didatangkan dari Bali, seorang ibu-ibu yang sudah cukup berusia. Ia memijat Gus Dur pada bagian-bagian yang memerlukan penanganan karena kondisi syaraf yang lemah.

Ditengah-tengah memijit kaki Gus Dur, tiba-tiba ibu tadi terlempar jatuh dan tangannya merah membara seperti habis terkena setlika. “Ia menjerit-jerit kesakitan, minta dicarikan bawang merah dan digosok-gosokkan ke tangannya untuk mengurangi panasnya,” kata Doktor kimia lulusan Jerman ini.

Sang ibu tadi bilang, ada makhluk lain dalam tubuh Gus Dur yang menganggu, dan ia tidak bisa mengalahkannya sendirian. Karena itu, ia berencana meminta bantuan anaknya yang tinggal di Lombok, yang juga memiliki kemampuan spiritual.

Beberapa waktu kemudian, pasangan ibu dan anak tersebut datang kembali. Gus Dur diobati dan dimandiin secara spiritual. Lalu kedua orang tersebut bertarung dengan makhluk halus yang mengganggu Gus Dur. Akhirnya, seekor srigala, yang sudah tertatih-tatih dengan tubuh penuh luka keluar.

Lalu orang tersebut bertanya kepada Gus Dur. “Ini dibunuh atau dikembalikan kepada orang yang mengirim santet”

“Bagi saya yang paling penting adalah jawaban Gus Dur. Beliau bilang, jangan dibunuh, biarin saja, yang penting sudah keluar. Ini yang membuat saya terkesan dengan beliau sebagai orang besar,” kata Bina Suhendra yang sekarang menjadi bendahara umum PBNU ini.

Pada hari kedua dalam proses pengobatan, satu makhluk halus keluar lagi dan Gus Dur kembali berpesan agar tidak dibunuh.

Rupanya, srigala yang dikalahkan pada hari sebelumnya dibunuh karena bandel dan Gus Dur ternyata juga tahu kejadian tersebut.  (mkf)

Sumber : NU Online

31. Gus Dur Mengangkat Ekonomi Warga NU


Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat berjasa mengangkat ekonomi warga NU dengan gagasan-gagasan yang dirintisnya. Namun tidak banyak pihak yang mengkaji peran pemberdayaan ekonomi yang dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama menjabat tiga periode ketua umum PBNU. Padahal,

Demikian diungkapkan Peneliti The Wahid Institue Nurun Nisa dalam diskusi kelompok kajian “Epistemologi Gus Dur”, Senin (25/04), di Kantor The Wahid Institute. Menurut Nisa, Gus Dur selalu berupaya mengerem laju konglomerasi dan kebijakan ekonomi Orde Baru yang sangat berorientasi pada kepentingan kelas pemodal.

“Selama menakhodai NU, Gus Dur telah melakukan langkah-langkah gebrakan dalam bidang ekonomi dengan mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Nusumma, bekerja sama dengan Bank Summa milik pengusaha Edward Soeryadjaya,” tutur Nisa yang menjadi pemateri dalam diskusi bertema “Gus Dur dan Perannya dalam Pemberdayaan Ekonomi Ke-NU-an” ini.

Visi di balik pemikiran Gus Dur, menurut Nisa’, adalah ekonomi kerakyatan, yaitu orientasi ekonomi yang memihak pengusaha gurem dan rakyat lemah. Namun cita-cita Gus Dur memang tidak seratus persen berhasil. Dari 2000 BPR yang direncanakan, baru terealisir belasan saja.

“Jasa Gus Dur yang lain adalah membentuk Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Lembaga ini dirancang untuk merintis berbagai percontohan pengembangan ekonomi dan merangsang iklim kewirausahaan di kalangan warga NU,” tandasnya.

Sementara itu, Saiful Arif, peneliti dari Pesantren Ciganjur menyatakan, di bawah tekanan hegemonik Orde Baru, kerja-kerja pemberdayaan Gus Dur di NU memang menemui kesulitan berarti.

“Pemikiran ekonomi Gus Dur tergolong visioner pada masanya. Pemikiran ekonomi Gus Dur merupakan kritik terhadap ekonomi pembangunan yang terlalu berkiblat pada pertumbuhan, dan bukan keadilan dan pemerataan,” tutur Arif. (min)

Sumber :  NU Online

30. Ramalan-Ramalan Gus Dur Jadi Presiden

Jatuhnya rezim Orde Baru memberi kesempatan terjadinya perubahan kekuasaan. Pada pemilu 1999, terdapat tiga orang calon presiden, yaitu Megawati, Habibie dan Gus Dur, yang waktu itu paling tidak diunggulkan, tetapi secara mengejutkan menjadi presiden Indonesia yang ke-4.

Bagi orang-orang tertentu, bahkan mungkin bagi Gus Dur sendiri, menjadi presiden hanya soal waktu saja. Ia sudah tahu bahwa ia harus menjalankan amanah memimpin Indonesia melewati masa-masa krisis yang menentukan nasib bangsa ke depan.

Ramalan pertama tentang kepresidenan Gus Dur yang terlacak berasal dari seorang pendeta sakti Hindu dari Banyuwangi. Sedemikian saktinya, saat terjadi hujan, padepokan pendeta yang ada diatas gunung tersebut tak kehujanan sementara diluar kompleksnya basah kuyub.

Tahun 1997, dua tahun sebelum jadi presiden, Gus Dur yang memang sangat suka bersilaturrahmi kepada siapa saja, berkunjung ke pendeta sakti tersebut. Mantan ketua PBNU H Mustofa Zuhad Mughni diceritai oleh Gus Dur bahwa dalam kunjungan tersebut, ia sudah diramalkan akan menjadi presiden.

Mustofa Zuhad juga menuturkan, sekitar enam bulan sebelum menjadi presiden, Gus Dur juga sudah mulai menjaga dirinya. Ia menghindari diajak makan lesehan di dekat masjid Istiqlal yang sebelumnya menjadi langganannya.

Testimoni lain datang dari KH Abas Muin, teman akrab Gus Dur yang saat ini masih menjadi salah satu ketua PBNU. Dalam sebuah pertemuan dengan tokoh LSM, Gus Dur menyampaikan dirinya akan jadi presiden berikutnya.

“Teman-teman mengamini saja, untuk menjaga perasaan Gus Dur, meskipun saat itu juga kurang percaya,’ katanya.

Kiai Said Aqil juga menyampaikan, saat Gus Dur ditengah-tengah upaya penyembuhan terhadap stoke, ia sedang tertidur diatas kursinya, begitu bangun ia langsung berujar “Aku presiden,”.

Menurut Kiai Said saat penyembuhan stroke ini, indra keenam Gus Dur dalam proses paling tajam. “Ia bisa menebak skor pertandingan bola dengan tepat,” katanya, padahal waktu itu Gus Dur penglihatannya sudah sangat tidak memungkinkan untuk melihat pertandingan sepak bola. (mkf)

Sumber, NU Online

29. Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah


Jazirah Arab merupakan daerah yang tandus dan panas sehingga melakukan perjalanan yang melewati padang pasir merupakan sesuatu yang menyiksa yang menjadi perjuangan berat dan butuh persiapan fisik dan mental yang prima.

Salah satu tanda kenabian Muhammad adalah ketika ia mengikuti misi dagang dari Makkah ke Syam, sekarang daerah Damaskus, bersama pamannya Abu Thalib. Sepanjang perjalanan tersebut Muhammad selalu dinaungi oleh awan sehingga tidak kepanasan.

Gus Dur, tentu saja jangan dibandingkan dengan Nabi Muhammad, pernah mengalami fenomena keajaiban alam yang juga luar biasa ketika ia berada di Makkah untuk menjalankan ibadah haji tahun 1994 lalu.

Kiai Said Aqil Siroj yang mendampingi Gus Dur mengisahkan, waktu itu rombongan haji sudah ada di Arafah. Kemudian Gus Dur bertiga, dengan Kang Said dan Sulaiman, asisten pribadi Gus Dur, memisahkan diri menjauhi perkemahan untuk berdoa di suatu tempat.

Mereka bertiga berdzikir panjang ditengah udara gurun pasir yang panas sehingga keluar keringat yang banyak. Untungnya ada awan yang berada diatas mereka yang melindungi pancaran sinar matahari langsung.

Ditengah-tengah dzikir tersebut, tiba-tiba awan tersebut menyibak dan satu cahaya kecil menerobos langsung mengenai tubuh Gus Dur sementara dua orang yang mengiringinya tidak terkena sinar tersebut. Gus Dur yang memimpin dzikir meneruskan dzikirnya sementara mereka berdua hanya bisa saling berpandang mata sambil terdiam dan ternganga.

“Kelihatan sekali ada mego (awan) membuka, ada cahaya yang ke Gus Dur, ini saya tahu sendiri. Kalau diceritakan sulit, karena orang pasti tidak percaya,” kata Kang Said.

Tapi setelah kejadian tersebut, Kang Said tidak menanyakan masalah itu. Menurutnya, jika pun ditanya, Gus Dur pasti jawabnya ringan-ringan saja. (mkf)

Sumber : NU Online

28. Idola Gus Dur adalah Para Sufi

Siapakah orang yang diidolakan oleh Gus Dur? para artis, pemain sepak bola, politisi, hartawan atau ilmuwan sebagaimana kebanyakan orang? Bukan itu semuanya. Menurut Kiai Said Aqil, Gus Dur sangat mengidolakan para sufi.

“Pokoknya idolanya para sufi yang filosof. Beliau senang sekali dengan judul disertasi saya, Hubungan Allah dengan Alam,” katanya.

Beberapa sufi yang buku dan kisah hidupnya banyak dipelajari oleh Gus Dur adalah Junaidi al Bagdadi, Ibnu Sina, Al Ghozali.

Ketika intelektualitasnya sudah sangat matang, Gus Dur menjadi bosan dengan pendekatan logis. Setiap orang yang kenal dengan Gus Dur akan kagum dengan instuisinya.

Dijelaskannya, orang kalau memberikan masukan ke Gus Dur dengan analisis, Gus Dur ngak ngreken (memperhatikan), tapi kalau ngaku dapat isyarah, ia akan memperhatikan karena hal ini tidak ada batasnya sementara rasionalitas ada batasnya.

“Ilham, ilmu ladunni, kasyaf, itu ngak ada batasnya, asal jangan ngaku mendapat wahyu atau mengaku nabi,” tuturnya.

Ia mencontohkan Ibnu Arabi mengaku mendapat ilham, tetapi mengatakan lastu nabiyyah warasullah, saya bukan nabi, padahal isinya luar biasa, sementara itu pendiri Ahmadiyah mengaku dapat wahyu.

“Ini salahnya mengaku mendapat wahyu, bukan menjadi wali, padahal isi bukunya bagus,” terangnya. (mkf)

Sumber : NU Online

27. Gus Dur Mengangkat Ekonomi Warga NU

Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat berjasa mengangkat ekonomi warga NU dengan gagasan-gagasan yang dirintisnya. Namun tidak banyak pihak yang mengkaji peran pemberdayaan ekonomi yang dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama menjabat tiga periode ketua umum PBNU. Padahal,

Demikian diungkapkan Peneliti The Wahid Institue Nurun Nisa dalam diskusi kelompok kajian “Epistemologi Gus Dur”, Senin (25/04), di Kantor The Wahid Institute. Menurut Nisa, Gus Dur selalu berupaya mengerem laju konglomerasi dan kebijakan ekonomi Orde Baru yang sangat berorientasi pada kepentingan kelas pemodal.

“Selama menakhodai NU, Gus Dur telah melakukan langkah-langkah gebrakan dalam bidang ekonomi dengan mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Nusumma, bekerja sama dengan Bank Summa milik pengusaha Edward Soeryadjaya,” tutur Nisa yang menjadi pemateri dalam diskusi bertema “Gus Dur dan Perannya dalam Pemberdayaan Ekonomi Ke-NU-an” ini.

Visi di balik pemikiran Gus Dur, menurut Nisa’, adalah ekonomi kerakyatan, yaitu orientasi ekonomi yang memihak pengusaha gurem dan rakyat lemah. Namun cita-cita Gus Dur memang tidak seratus persen berhasil. Dari 2000 BPR yang direncanakan, baru terealisir belasan saja.

“Jasa Gus Dur yang lain adalah membentuk Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Lembaga ini dirancang untuk merintis berbagai percontohan pengembangan ekonomi dan merangsang iklim kewirausahaan di kalangan warga NU,” tandasnya.

Sementara itu, Saiful Arif, peneliti dari Pesantren Ciganjur menyatakan, di bawah tekanan hegemonik Orde Baru, kerja-kerja pemberdayaan Gus Dur di NU memang menemui kesulitan berarti.

“Pemikiran ekonomi Gus Dur tergolong visioner pada masanya. Pemikiran ekonomi Gus Dur merupakan kritik terhadap ekonomi pembangunan yang terlalu berkiblat pada pertumbuhan, dan bukan keadilan dan pemerataan,” tutur Arif. (min)

26. Syeikh Yasin Padang Layani Sendiri Gus Dur

Syeikh Yasin Padang, salah satu ulama keturunan Indonesia yang yang menjadi benteng ajaran ahlusunnah wal jamaah merupakan ulama yang sangat dihormati di dunia. Ulama ini juga sangat dihormati oleh warga NU.

Bernama lengkap Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Makkah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. Ia adalah Muhaddits, Faqih, ahli tasawwuf dan kepala Madrasah Darul-Ulum, yang siswanya banyak berasal dari Indonesia.

Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul Fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang ilmu-ilmu yang lain.

Ia memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, hanya menggunakan kaos dan sarung dan sering nongkrong di “Gahwaji” untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencelanya karena kekayaan ilmu yang dimiliki

Pada muktamar NU tahun 1979, ia datang ke Indonesia dan selanjutnya melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren, yang dihadiri oleh ribuan warga NU yang ingin bertemu langsung dengannya.

Ia juga dikenal memiliki banyak kekeramatan. Diantara cerita yang beredar soal kekeramatannya adalah Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syeikh Yasin Pada hari Jumat. Ketika Azan Jumat dikumandangkan, Syeikh Yasin masih saja di rumah, akhirnya Zakariyya keluar dan sholat di masjid terdekat. Seusai sholat Jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syeikh Yasin ra. tidak sholat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…

HM Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syeikh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakau dari buah-buahan/rokok tradisi bangsa Arab). Setalah dibikinkan dan Syeikh mulai meminum teh, ia keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syeikh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.

Dikisahkan ketika KH Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, ia menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, ia menerima sepucuk surat dari Syeikh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan KH Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!

Kisah hubungan antara Syeikh Yasin Padang dan Gus Dur juga diungkapkan oleh KH Said Aqil Siroj. Dalam satu kunjungan ke Arab Saudi, Gus Dur menyempatkan diri singgah ke rumah Syeikh Yasin.

Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur mendapat penghormatan yang luar biasa, meskipun usianya lebih muda, Syeikh Yasin melayani sendiri Gus Dur, mengambilkan air, kurma dan lainnya, tidak boleh dilayani oleh para pembantunya.

Kiai Said juga mendapat sejumlah cerita soal karomah Syeikh Yasin. Ketika sedang makan siang, ada ustadz anak buahnya, namanya Abdurrahim dari Kupang, keluar ruangan, tiba-tiba Syeikh Yasin bilang, Abdurrahim diiringin malaikat, “E.. jam enam sore mati,” katanya.

Waktu Irak mau nyerang Kuwait, Syeikh Yasin tiba-tiba kemringet, ditanya sama Tantowi Musaddad, “Darimana?”, “Dari Kuwait, lihat bangkai dan darah,”

“Ini tanda kewaliannya Syeikh Yasin, orang kayak gitu dengan Gus Dur hormat dan memberi perlakukan istimewa, padahal juga sudah sepuh banget,” tandasnya. (mkf)

Sumber : NU Online

25. Saat-saat Kritis Gus Dur Lolos dari Maut

Pada malam 19 Januari, Hasyim Wahid, adik terkecil Gus Dur sedang menunggunya di kantor ketika kemudian ia merasa khawatir. Gus Dur ke kamar mandi di seberang koridor kantornya di gedung PBNU. Setelah sekian lama, ia tak muncul juga.

Karena tak dapat menunggu lagi, Hasyim dan beberapa orang lagi membuka paksa pintu kamar mandi dan mendapatkan Gus Dur tak sadarkan diri di lantai. Saudaranya yang lain, Umar, seorang dokter, dipanggil dan Gus Dur dilarikan ke rumah sakit.

Umar mengumpulkan teman-temannya dan malam itu ahli bedah syaraf terbaik di Indonesia berkumpul di rumah sakit untuk berunding dengan Umar.

Tampaknya Gus Dur tak akan bertahan hidup. Tekanan darahnya meningkat hingga ke tingkat fatal dan denyut nadinya serta tanda-tanda vital lainnya menunjukkan ia nyaris menghadapi maut.

Diagnosis yang diberikan adalah bahwa ia menderita stoke berat. Satu-satunya cara untuk mengatasi msalah ini adalah melakukan pembedahan darurat yang penuh risiko dan memasukkan sebuah pipa kecil plastik untuk mengeluarkan cairan dari tengkorak kepalanya.

Namun malam itu tak mungkin dilakukan pembedahan karena bila dilakukan, ia akan kehilangan nyawanya. Mereka memutuskan menunggu hingga keesokan paginya. Ketika pagi tiba, Umar meminta para ahli bedah syarat untuk melakukan pembedahan. Mereka protes karena bagi mereka, hal ini mengandung banyak risiko dan sang pasien akan meninggal di meja operasi.

Umar menanggapinya demikian: “Kami berhutang kepadanya untuk memberikan kesempatan. Kakak saya sering kali keluar secara mengejutkan dari situasi yang sulit. Paling tidak kita harus memberikan kesempatan kepadanya. Kita harus mengoperasikannya”

Ketika tim bedah berkumpul di ruang bedah, setiap orang merasakan dekatnya malapetaka dan hampir merasa pasti Gus Dur tak akan keluar dari ruang bedah ini dalam keadaan hidup.

Namun, di luar perkiraan, operasi ini berjalan baik. Dalam beberapa jam kemudian, ia telah menunjukkan sedikit tanda-tanda ke arah kesembuhan.

Keesokan harinya, Gus Dur telah mampu berbicara dengan tamu-tamunya dan kelihatan ia telah melewati serangan stroke dan bedah otak dengan sangat baik. Dikutip dari Biografi Gus Dur, karya Greg Barton. (mkf)

Sumber : NU Online

24. Gus Dur Tertarik Dunia Sufistik dan Mistik sejak Muda

Kebiasaan Gus Dur untuk melakukan ziarah ke makam-makam yang dianggap keramat, yang bagi orang muslim Jawa dianggap sebagai “laku” atau tirakat ternyata telah tumbuh dan berkembang dari usia muda.

Ketika belajar di pesantren Tambakberas dan Denanyar Jombang, antara tahun 1959-1963, yang berarti pada usia 20 tahunan, ia rutin menjalankan aktifitas ini, bahkan ke makam yang sangat jauh dengan berjalan kaki.

Dalam buku biografinya, yang ditulis oleh Greb Barton, digambarkan

“Ia sangat tertarik pada sisi sufistik dan mistik dari kebudayaan Islam tradisional dan juga telah membiasakan diri untuk secara teratur berziarah ke makam-makam untuk berdoa dan bermeditasi, biasanya pada tengah malam. Kadangkala pendekatan terhadap kedua ilmu ini saling tumpang tindih….

Dalam tradisi pesantren, para santri biasanya menghapal kitab Alfiyah, yang merupakan tata bahasa Arab. Untuk bisa menghafal kitab ini, Gus Dur pun melakukan ziarah.

“Ketika menyiapkan dirinya untuk menghapal teks ini, Gus Dur bersumpah untuk melakukan ziarah dengan berjalan kaki ke makam-makam di selatan Jombang dengan puncaknya di daerah yang tidak rata dan berpenduduk jarang di pantai selatan Jawa.

Ia berhasil dan berangkat melakukan ziarah pribadinya sambil menuju arah selatan lewat jalan-jalan yang tak banyak ditempuh orang karena ia kuatir dikenali dan kemudian diberi tumpangan.

Perjalanan kaki ini menempuh jarak lebih dari 100 km, dan memerlukan beberapa hari. Bagi Gus Dur, perjalanan ini benar-benar di luar batas kemampuan manusiawi tubuhnya yang kurang atletis, namun kekerasan hatinyalah yang membuatnya dapat menempuh jarak sejauh itu.

Namun demikian, ketika baru memulai perjalanan pulangnya, ia dikenali oleh beberapa orang yang menumpang mobil dan dengan gembira, ia menerima tawaran tumpangan untuk kembali ke Jombang”. (mkf)

Sumner : NU Online

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.