Idul Fitri Sebagai sarana perubahan menuju Taqwallah

HAKIKAT IDUL FITRI

SEBAGAI SARANA PERUBAHAN MENUJU TAQWALLAH

Idul Fitri adalah merupakan hari bahagia sekaligus hari kemenangan yang telah dijanjikan oleh oleh Allah kepada semua hambanya yang telah menunaikan ibadah puasa. Janji Allah itu tak lain adalah Idul Fitri, yaitu kembali kepada kesucian, kembali suci seperti bayi saat dilahirkan oleh ibunya. Dan janji itu tidak diberikan kepada sembarang orang, melainkan qiyamullail dan melaksanakan amalan-amalan sunnat lainnya. Janji itu sebagaimana telah diungkapkan oleh Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW dalam sabdanya  yang artinya;

Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah mewajibkan puasa dan Aku sunnatkan qiyamullail kepadamu. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan qiyamullail karena iman dan mengharapkan rahmat Allah, maka dosanya akan bersih sepertia saat dilahirkan ibunya. (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi)

Inilah kakikat Idul Fitri yang telah dijanjikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang menunaikan ibadah puasa dan malam harinya selalu menunaikan qiyamullail. Sungguh sayang sekali bila kita tidak mendapatkan janji Allah tersebut, sebab banyak sekali orang yang melakukan puasa , namun tidak mendapatkan janji itu. Mengapa demikian keadaanya ?. Semua itu taklain adalah disebabkan cara dan tujuan puasanya tidak cocok dengan apa yang digariskan syari’atkan islam.

Secara tidak sadar, bahwa banyak orang yang melakukan ibadah puasa hanya sekedar menahan makan dan minum disiang hari saja, sedang anggota badan lainnya masih bisa melakukan hal-hal yang menjurus kepada kemaksiatan. Mulut tidak henti-henti digunakan untuk membicarakan aib orang lain, memfitnah, mengadu domba, dan sebagainya. Tangan digunakan untuk mengambil orang, dan lain-lainnya. Dia melaksanakan puasa hanya sekedar mengikuti musim saja, yang sama sekali tidak mengharapkan untuk meningkatkan derajat ketaqwaannya kepada Allah SWT atau hanya karena malu melihat tetangganya puasa serta sekedar untuk pantes-pantesan saja.

Hendaknya kita ketahui bersama, bahwa orang yang beridul fitri tidak sama dengan orang yang berhari raya. Kalau sekedar hari raya, semua orang bisa mendapatkannya dan mengikutinya, walaupun di bulan ramadhan tidak menunaikan ibadah puasa. Dan kenyataannya memang banyak sekali orang yang hanya ikut berhari raya, bahkan persiapannya lebih lengkap dibanding dengan yang berpuasa. Rumahnya dihiasi dengan hiasan yang indah beraneka warna, minuman yang sedap dengan aneka cita rasa, ikut bersilaturrahmi, salaing berkunjung sesama kaum muslimin lainnya, bahkan dengan keluarga yang paling jauh sekalipun.

Orang yang beridul fitri bukanlah sekedar berhari raya seperti diatas, yang Cuma berpakaian baru dan lain senagainya. Akan tetapi pada hakikatnya orang yang beridul fitri adalah orang yang semakin bertambah taqwanya dan ketaatannya kepada Allah setelah melaksanakan ibadah puasa. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah qoul yang artinya ;

”Bukanlah Id itu milik orang yang berpakain baru, akan tetapi Id itu adalah milik orang yang ta’atnya dan taqwanya bertambah dan menjauhi meaksiat”.

Adapun ciri-ciri orang yang beridul fitri atau orang yang mendapatkan kemenangan selama menjalankan ibadah puasa sebagaimana yang dipaparkan dalam Al-Qur’an ;

”Sungguh beruntung orang membersihkan diri (dengan beriman) dan ingat nama Allah kemudian dia shalat.” ( QS.Al-’A’la ; 14 – 15 )

Menurut keterangan ayat diatas, maka ciri-ciri orang mendapatkan kemenangan atau benar-benar lulus ujian khususnya dibulan Ramadhan selama menunaikan ibadah puasa adalah;

  1. Selalu mensucikan diri dari segala bentuk kema’siatan, kejahatan, kedzalaiman, kesombongan, kemunafikan, kemunkaran, rakus harta kekayaan, dan sebagainya.
  2. Selalu melakukan dzikrullah, baik sesudah shalat maupun diluar waktu shalat. Karena dengan dzikrullah inilah akan menjadikan kita bersih dan tidak mudah terjerumus kedalam kesesatan.
  3. Selalumenegakkan shalat, terutama shalat wajib lima waktu, disamping melakukan shalat sunnat lainnya.

Tingkah laku inilah cermin dari sebuah kemenangan seseorang yang telah melakukan ibadah puasa atau benar-benar mendapatkan idul fitri atau kembali kepada kesucian. Bila tiga ciri ini benar-benar telah menyatu dalam setiap gerak langkah kita, berarti kita benar-benar mendapatkan Idul Fitri. Namun sebaliknya, bila dari tiga ciri diatas sama sekali belum melandasi tingkah laku kita, berarti ibadah puasa kita masih jauh dari tujuan yang kita harapkan dan jauh dari target yang dikehendaki dari perintah melaksanakan ibadah puasa, yakni menjadi Muttaqin.

Selain itu, masih ada yang lebih memprihatinkan, yaitu ada sebagian orang yang menjadikan ibadah puasa tersebut hanyalah sebagai gencatan senjata dengan syetan. Setelah hari rayatidak malah bertambah baik amal ibadahnya dan ahlaqnya, tapi malah kembali pada asalnyasebelum melakukan puasa, bahkan lebih buruk lagi. Ibadah puasanya tidak mendapatkan I’dul Fitri, tapi malah mengidap penyakit AIDS (Akibat Intim Dengan Syetan) hingga malah terus menerus berbuat maksiat kepada Allah. Menjadi orang yang lupa ibadah, lupa dzikrullah, dan lupa segala-galanya. Sebagaimana dijelaskan dalam Sabda Rasulullah SAW;

”Akan datang suatu zaman (dimana pada waktu itu ) orang sama-sama menyenangi lima perkara dan melupakan lima perkara lainnya, yaitu :

  1. Menyintai (sibuk urusan) dunia dan melupakan (tanggung jawabnya) di akherat.
  2. Menyintai keindahan dunia dan melupakan siksa kubur.
  3. Menyintai (rakus) harta kekayaan dan melupakan hisab.
  4. Menyintai keluarga dan melupakan bidadari (kenikmatan surga)
  5. Menyintai (menyumbar) hawa nafsu dan melupakan Allah (perintah-perinta Allah).

Mereka melepaskan dariku, Aku pun melepaskan tanggungjawab dari mereka semua.

Begitulah macam-macam tingkah laku orang yang tidak mendapatkan Idul Fitri dari Ibadah Puasa, hingga menjadi lupa segala-galanya. Sehingga akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya adalah selalu membawa, kerugian, kerusakan dan bencana. Itulah gambaran orang yang tidak dapat menahan hawa nafsunya, akibatnya akan mencelakakan dirinya sendiri dan membawa bencana bagi orang lain. Karena itu dengan ibadah puasa diharapkan dapat sedikit menekan hawa nafsu sehingga dapat menjadi orang yang bertaqwa yang dapat mengantarkan diri kepada hal-hal yang bermanfaat.

Dari gambaaran diatas, dapatlah dibayangkan betapa pentingnya usaha untuk menekan gejolak  hawa nafsu manusia, agar dapat dibina menjadi orang yang bertaqwa. Karena itu, untuk mencapai tujuan menjadi orang yang muttaqin itu, dengan melakukan ibadah puasa secara ikhlas dan mengharap rahmat Allah SWT. Maka dengan hidayah dan ma’unah Allah diharapkan bisa terwujud dan terlaksana tujuan semua itu, yaitu menjadi INSAN MUTTAQIN.

Inti dari bimbingan rohani dari ibadah puasa adalah menekan pada pengendalian dairi dari hawa nafsu, selain mencari nilai yambahdan pahaala. Selaama ibadah puasa, manusia dilatih mensucikan diri dari segala sifat tercela, menjauhkan diri dari ahlaqul madzmumah dan membiasakan diri berahlaqul karimah, sehingga setelah rampungibadah puasa ramadhan diharapkan kembali kepada fitrahnya, asal kejadiannya yang suci seperti pada saat lahir dari kandungan ibunya.

Bila nafsu sudah dapat dikendalikan dan hati menjadi bersih sert tingkah laku menjadi baik, maka aakan mudah mendapatkan predikan insan muttaqin. Dengan demikian puasa yang dilakukan selama ramadhan bisa berdayaguna dan berhasil guna dalam meraih derajat tinggi manusia, yaitu insan muttaqin. Manusia yang selalu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi segala larangan-Nya.

Akhirnya marilah senantiasa berdoa kepada Allah SWT semoga puasa ramadhan dan amal-amal sholeh lainnya yang kita laksanakan selama sebulan penuhditerima oleh Allah SWT. Lebih dari itu, mudah-mudahan kita digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapatkan Idul Fitri, menjadi orang yang kembali suci laksana saat kita dilahirkan, sehingga pada akhirnya kita akan diwisuda dengan predikat SARJANA MUTTAQIN. Amin…. Yaa Rabbal ’alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: