KH. Abdul Wahab Hasbullah

KH. ABDUL WAHAB HASBULLAH

 

KH. Abdul Wahab Hasbullah lahir pada bulan Maret 1888 di Tambakberas, Jombang.

 

Pendidikan : Selama 20 tahun Kiai Wahab mendalami agama di berbagai pesantren. Pernah belajar di Langitan, Tuban; Mojosari, Nganjuk; Tawangsari, Spanjang; Branggahan, Kediri; Syaikhona Cholil, Bangkalan; Tebuireng, Jombang; dan Makkatul Mukarromah.

 

Pengalaman : Mendirikan Sarekat Islam cabang Makkah (1914). Mendirikan perguruan pendidikan di kampong Kawatan Gg IV Surabaya dengan nama Nahdlatul Wathan (1916). Mendirikan sebuah kelompok diskusi Taswirul Afkar, dan selanjutnya perkumpulan itu dinaikkan statusnya, dari sebuah kelompok diskusi anak-anak muda menjadi sebuah sekolah. Namanya tetap, Madrasah Taswirul Afkar, terletak di kawasan Ampel Suci tahun 1918.

 

Kiai Wahab adalah tokoh yang sangat dinamis, lincah, pantang menyerah dan banyak akal. Sebagai ketua Cabang SI di Makkah, beliau banyak berhubungan dengan H.O.S. Cokroaminoto yang pemikirannya banyak mengarah pada politik. Di Madrasah nahdlatul Wathan bisa bergaul dengan K.H. Mas Mansur yang tokoh Muhammadiyah. Dan di Taswirul Afkarbisa cocok dengan K.H. Ahmad Dahlan Ahjad, tokoh NU yang belakangan dikenal sebagai salah satu pendiri MIAI.

 

Tahun 1925, Kiai Wahab bersama dengan Syeikh Ghonaim Al-Misri dan K.H. Abdul Qahar (mahasiswa NU yang tinggal di Makkah), menemui Raja Ibnu Saud di Makkah sebagai utusan jam’iyah Nahdlatul Ulama Indonesia. Tim yang dikenal dengan sebutan Komite Hijaz ini bertujuan melobi pemerintah Kerajaan Arab Saudi, agar ajaran bermadzhab tetap dijamin di Tanah Haram. Misi itu berhasil diemban dengan baik. Raja Saud menyetujui permintaan itu.

 

Kiai Wahab pula yang memperakarsai adanya tradisi jusnalistikdi kalangan NU dengan mendirikan majalah tengah bulanan Soeara Nahdlatoel Oelama’. Majalah itu dipimpin langsung oleh Kiai Wahab sendiri dari Surabayadan mampu bertahan hingga 7 tahun lamanya. Kelak, majalah ini berganti nama manjadi Berita Nahdlatoel Oelama’ yang dipimpin oleh K.H. Mahfudz Shidiq dan Abdullah Ubaid sebagai wakilnya.

Ketika ANO (Anak Nahdlatoel Oelama’) sebagi cikal bakan Ansor, mulai memperkenalkan seragam barunya dalam Muktamar Menes, Banten 1938, para Kiai tuamemberikan penolakan yang luar biasa. Sebab seragam yang dipakai adalah celana panjang, dasi, kopiah dan tanda bintang di pundak. Persolan dasi itulah yang utama, karena dinilai meniru busana orang kafir. Disisi lain ada usulan agar kongres ANO digabung saja bersama Muktamar NU. Ganti usulan itu ditolak ANO, mengingat NU belum sepenuhnya menerima kehadiran ANO. Benturan antara golongan tua dan golongan muda semakin sengit. Sama-sama nekadnya.

 

Pada saat itulah Kiai Wahab diminta nasehatnya menengahi masalah itu. Kiai Wahab berdiri dalam forum menyampaikan nasehatnya:

“Soal tidak setujunya kaum tua terhadap ANO, tidak boleh dibiarkan berlangsung terus. Sebab, kalau dibiarkan tak akan ada habisnya. Ada contoh menarik tentang ini. Dulu, para Sahabat Rasulullah SAW sewaktu berperang melawan orang-orang Persi, masing-masing pihak tak ada yang berani memulai peperangan ini. Kenapa? Karena kuda para Sahabat belum pernah mengenal gajah yang menjadi kendaraan perang orang Persi. Sehingga, ketika perang akan dimulai, kuda-kuda tunggangan itu berbalik. Begitu juga gajah orang-orang Persi. Keduanya sama-sama takut, karena belum saling mengenal saja.

Tapi setelah para Sahabat membeli gajah, kemudian dikenalkan pada kuda-kuda yang terlatih untuk perang itu, maka lama-lama kuda tak takut lagi. Setelah itu, mereka berangkat perang dan berhasil menaklukkan orang Persi.”

Dengan nasehat yang jitu dari Kiai Wahab, rukunlah kedua kelompok itu. Akhirnya mereka sepakat untuk menggabungkan Kongres ANO dengan Muktamar NU.

 

Pengabdian: Penggagas berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama bersama K.H.M. Hasyim Asy’ari, 1926. menjabat Katib ‘Aam PBNU saat NU pertama kali didirikan dengan K.H.M. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbarnya. Di saat K.H.M. Hasyim Asy’ari dan K.H. Mahfudz Shidiq, keduanya atas nama Rais Akbar dan Ketua PBNU dipenjara Tentara Pendudukan Jepang, Kiai Wahab tampil mengambil alih kepemimpinan dengan menyebut dirinya Ketua Akbar (1942). Di saat keduanya dilepaskan Tentara Pendudukan Jepang, posisi itu diserahkan pada mereka.

 

Sepeninggal Hadratussyeikh K.H.M. Hasyim Asy’ari (1947) jabatan Rais Akbar ditiadakan, diganti menjadi Rais ‘Aam, dengan Kiai Wahab sebagai orang pertama yang menduduki posisi itu hingga wafatnya (1971). Sedangkan K.H. Bisri Syansuri (adik iparnya) menjadi wakilnya. Ketiak Kiai Wahab wafat, posisinya digantikan Kiai Bisri.

 

Kiai Wahab memang dikenal jago debat. Dalam suatu pertemuan Rais Syuriah PBNU, Kiai Wahab pethenthengan (berdebat sengit) dengan K.H. Bisri Syansuri membahas sebuah Yayasan di Semarang yang mengurusi ibadah haji. Kiai Bisri menyatakan tidak boleh menurut fiqh, sedangkan Kiai Wahab membolehkannya. Sampai akhirnya Kiai Wahab mengatakan, “Pekih iku nek rupek yo diokeh-okeh”. (Fiqh itu kalau sempit ya diusahakan longgar). Terdengan gurauan, tapi sebenarnya menyimpan makna filosofi yang tinggi.

 

Kiai Wahab pernah menjadi anggota BP KNIP, anggota konstituante, berkali-kali menjadi anggota DPR dan juga anggota DPA.

 

Kiai Wahab wafat pada hari Rabu, 12 Dzulqa’dah 1391 H. / 29 Desember 1971 M dalam usia 83 tahun, dimakamkan di Pemakaman Keluarga Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: