25. Saat-saat Kritis Gus Dur Lolos dari Maut

Pada malam 19 Januari, Hasyim Wahid, adik terkecil Gus Dur sedang menunggunya di kantor ketika kemudian ia merasa khawatir. Gus Dur ke kamar mandi di seberang koridor kantornya di gedung PBNU. Setelah sekian lama, ia tak muncul juga.

Karena tak dapat menunggu lagi, Hasyim dan beberapa orang lagi membuka paksa pintu kamar mandi dan mendapatkan Gus Dur tak sadarkan diri di lantai. Saudaranya yang lain, Umar, seorang dokter, dipanggil dan Gus Dur dilarikan ke rumah sakit.

Umar mengumpulkan teman-temannya dan malam itu ahli bedah syaraf terbaik di Indonesia berkumpul di rumah sakit untuk berunding dengan Umar.

Tampaknya Gus Dur tak akan bertahan hidup. Tekanan darahnya meningkat hingga ke tingkat fatal dan denyut nadinya serta tanda-tanda vital lainnya menunjukkan ia nyaris menghadapi maut.

Diagnosis yang diberikan adalah bahwa ia menderita stoke berat. Satu-satunya cara untuk mengatasi msalah ini adalah melakukan pembedahan darurat yang penuh risiko dan memasukkan sebuah pipa kecil plastik untuk mengeluarkan cairan dari tengkorak kepalanya.

Namun malam itu tak mungkin dilakukan pembedahan karena bila dilakukan, ia akan kehilangan nyawanya. Mereka memutuskan menunggu hingga keesokan paginya. Ketika pagi tiba, Umar meminta para ahli bedah syarat untuk melakukan pembedahan. Mereka protes karena bagi mereka, hal ini mengandung banyak risiko dan sang pasien akan meninggal di meja operasi.

Umar menanggapinya demikian: “Kami berhutang kepadanya untuk memberikan kesempatan. Kakak saya sering kali keluar secara mengejutkan dari situasi yang sulit. Paling tidak kita harus memberikan kesempatan kepadanya. Kita harus mengoperasikannya”

Ketika tim bedah berkumpul di ruang bedah, setiap orang merasakan dekatnya malapetaka dan hampir merasa pasti Gus Dur tak akan keluar dari ruang bedah ini dalam keadaan hidup.

Namun, di luar perkiraan, operasi ini berjalan baik. Dalam beberapa jam kemudian, ia telah menunjukkan sedikit tanda-tanda ke arah kesembuhan.

Keesokan harinya, Gus Dur telah mampu berbicara dengan tamu-tamunya dan kelihatan ia telah melewati serangan stroke dan bedah otak dengan sangat baik. Dikutip dari Biografi Gus Dur, karya Greg Barton. (mkf)

Sumber : NU Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: